www.fasznews.com -
(Sebuah catatan perjalanan dari Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah)
Perjalanan itu sama sekali tidak
direncanakan. Ba’da Ashar, roda kendaraan mulai berputar meninggalkan Kota
Malang, menembus jalan yang perlahan berganti rupa seiring matahari yang kian
condong ke ufuk barat. Kira-kira empat puluh menit berlalu dalam diam yang
ditemani debur angin dan lamat-lamat suara kota yang menjauh, hingga akhirnya
langit benar-benar menyerahkan diri pada gelap. Azan Isya berkumandang nyaris
bersamaan dengan roda yang berhenti di depan gerbangnya, sebuah pesantren yang
namanya sudah lama kami kenal, namun belum pernah bertandang masuk ke dalamnya,
dan pada senja itu: Darullughah Wadda’wah, kami berkunjung. Kunjungan yang tak
direncanakan itu, pada akhirnya, justru berbuah pengetahuan yang jauh lebih
kaya daripada yang pernah kami bayangkan sebelum berangkat.
Kami disambut dengan hangat oleh
Dr. Kholili Hasib (Kaprodi S3 PAI), Dr. Muhammad
Farid (Kaprodi S3 MPI), Dr. Akhmad Fauzi Hamzah (Wakil Direktur Pasca UII
Dalwa) dan beberapa ustadz dari Dalwa.
Kami diajak makan malam di restoran Hotel Dalwa saat itu.
Perbincangan berlangsung hangat, diselingi dengan percakapan seputar
pendidikan, pesantren, dan topik ringan lainnya. Perbincangan yang akhirnya
mengantar kami menelisik lebih jauh, walaupun belum jenak saat malam mulai
menggamit gelap.

Pondok Pesantren Darullughah
Wadda'wah, terletak di sudut Raci, Bangil, Pasuruan. Dari kejauhan, tampak
seperti pesantren pada umumnya: menara masjid menjulang, deretan asrama santri
berbaris rapi, dan suara mengaji yang mengalun sejak subuh. Namun, siapa pun
yang melangkah lebih jauh ke dalam kompleks Pondok Pesantren Darullughah
Wadda'wah (Dalwa) akan mendapati bahwa pesantren ini menyimpan lebih banyak
cerita ketimbang sekadar tempat mengaji. Di balik gerbangnya, tumbuh sebuah
ekosistem yang memadukan dakwah, pendidikan formal, dan denyut ekonomi umat, sebuah
miniatur tentang bagaimana pesantren bisa menjadi salah satu jalan bagi
kemajuan bangsa.

Nama Dalwa tak bisa dilepaskan dari sosok pendirinya, Al Habib Hasan bin Ahmad Baharun, yang akrab disapa Abuya. Perjalanan pendidikannya sendiri adalah potret keseimbangan: ia menimba ilmu agama sejak kecil dari kedua orang tuanya, lalu menempuh pendidikan formal mulai dari Sekolah Rakyat, Pendidikan Guru Agama, hingga Sekolah Menengah Ekonomi Atas di Surabaya (RRI.co.id, 2026). Pengalaman itulah yang kelak menjadi fondasi filosofi pesantren yang ia dirikan pada 1981: bahwa ilmu agama dan ilmu umum bukan dua kutub yang berseberangan, melainkan dua sayap yang sama-sama dibutuhkan seorang santri untuk terbang menghadapi zaman. Pesan yang kerap diulang Abuya, bahwa suatu saat santri akan membutuhkan ijazah, menjadi semacam mantra yang menjelaskan mengapa Dalwa sejak awal tak pernah berhenti hanya pada pengajaran kitab kuning.

Dari titik itulah pendidikan formal di Dalwa tumbuh berjenjang. Sekolah tinggigama Islam yang dirintis Abuya kini telah berkembang menjadi sebuah institut agama Islam dengan jenjang pendidikan yang merentang hingga magister dan doktor (RRI.co.id, 2026). Nama “Darullughah” atau rumah bahasa pun bukan sekadar label; penguasaan bahasa Arab menjadi salah satu keunggulan yang melekat pada santri-santri Dalwa, modal yang membuka jalan bagi mereka untuk mendalami khazanah keislaman langsung dari sumbernya sekaligus bersaing di ranah akademik yang lebih luas.
Dari titik itulah
|
|
|
|
|
|
Namun yang barangkali paling
mencolok, dan jarang ditemukan di pesantren lain, adalah kelengkapan fasilitas
ekonomi yang dibangun Dalwa. Di bawah pengelolaan pusat bisnisnya, pesantren
ini menaungi belasan unit usaha: hotel bernuansa syariah, minimarket, pabrik
roti, produksi air minum kemasan, furnitur, fashion, percetakan, hingga layanan
travel haji dan umrah serta katering (NU Online, t.t.). Unit-unit ini disebut
mampu menghasilkan laba lebih dari seratus tiga puluh miliar rupiah dalam
setahun, cukup untuk menopang gaji guru dan biaya operasional pesantren tanpa
harus bergantung sepenuhnya pada donasi atau bantuan pemerintah (NU Online,
t.t.). Dengan kata lain, Dalwa membuktikan bahwa kemandirian ekonomi dan
kemurnian dakwah bisa berjalan beriringan, bukan saling meniadakan.
Yang membuat model ini kian
bermakna adalah dampaknya yang tidak berhenti di tembok pesantren. Sejumlah
unit usaha dikelola secara profesional bersama masyarakat sekitar yang
berkompeten, dan pemberdayaan ekonomi yang dijalankan menyasar warga umum di luar
santri, bukti bahwa Dalwa memosisikan diri sebagai pesantren yang ramah bagi
umat, bukan menara gading yang berjarak dari lingkungannya (Laili & Zaki,
2020). Santri sendiri turut ditempa dengan semangat kewirausahaan, meski pada
masa belajar diniyah mereka sengaja tidak dilibatkan langsung dalam operasional
bisnis agar fokus belajarnya tak terganggu. Prinsip ini menegaskan bahwa jiwa
entrepreneur ditanamkan bukan sebagai pengalih perhatian dari mengaji,
melainkan sebagai bekal tambahan yang kelak menyertai santri ketika mereka
kembali ke tengah masyarakat.
Dari sudut Raci inilah kemudian
tergambar jawaban atas pertanyaan besar tentang peran pesantren dalam
pembangunan bangsa. Pesantren, di tangan Dalwa, bukan lagi institusi yang
berhenti pada fungsi keagamaan semata, melainkan turut menjawab tantangan zaman:
mencetak generasi yang cakap ilmu agama sekaligus melek ekonomi, mandiri secara
kelembagaan, dan terbuka kepada umat di sekitarnya. Perjalanan singkat ba’da
Ashar yang berakhir di gerbangnya saat Isya itu pun, pada akhirnya, terasa
seperti sebuah isyarat bahwa pengetahuan kerap datang justru dari langkah yang
tak direncanakan. Barangkali di situlah letak makna sesungguhnya dari nama yang
disandang pesantren ini, rumah bahasa dan dakwah yang, pada akhirnya, juga
menjelma menjadi pelita ilmu bagi bangsa. (adf).
Terima
kasih turut melengkapi referensi:
Laili,
Y. N. F. M., & Zaki, I. (2020). Pemberdayaan ekonomi masyarakat di Pondok
Pesantren Dalwa berdasarkan model evaluasi sumatif CIPP. Jurnal Ekonomi Syariah
Teori dan Terapan, 7(7), 1214–1230.
https://doi.org/10.20473/vol7iss20207pp1214-1230
NU
Online. (t.t.). Mahasiswa Unhasy belajar kewirausahaan di kampus Dalwa. NU
Online.
https://www.nu.or.id/daerah/mahasiswa-unhasy-belajar-kewirausahaan-di-kampus-dalwa-8NBKy
RRI.co.id.
(2026, Juli 27). Habib Hasan Baharun dorong santri miliki ijazah untuk dakwah.
RRI.co.id.
https://rri.co.id/samarinda/berita-lain/2591943/habib-hasan-baharun-dorong-santri-miliki-ijazah-untuk-dakwah