Blog

  • UII Dalwa Gelar Pelatihan Pengelolaan Jurnal Scopus, Datangkan Pakar dari Universiti Malaya

    • super@admin.com
    • 12 Sep, 2026
  • Dari Raci untuk Dunia: Ketika Pesantren Bicara Bahasa Peradaban

    • super@admin.com
    • 12 Sep, 2026
  • UMT Berduka, Dr. H. Desri Arwen Berpulang ke Rahmatullah

    • super@admin.com
    • 28 Aug, 2026

Tag

  • Nasional
  • Internasional
  • Surabaya
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis

Social

  • Redaksi
Login |
  • Peristiwa
    • Nasional
    • Internasional
    • Surabaya
  • Politik
  • Keadilan
    • Hukum
    • Kriminal
  • Ekonomi
    • Ekonomi & Bisnis
  • Pendidikan
    • Pendidikan
    • Pesantren
  • Lifestyle
    • Keluarga
    • Olahraga
    • Liburan & Travel
    • Kesehatan
  • Religi
    • Religi
  • Teknologi
  • Kolom
    • Edukasi
    • Psikologi
    • Opini
    • Home

    Dari Raci untuk Dunia: Ketika Pesantren Bicara Bahasa Peradaban

    Internasional Opini Edukasi Pesantren Teknologi
    • super@admin.com
    • Sep 12, 2026
    • 4 min read
    Dari Raci untuk Dunia: Ketika Pesantren Bicara Bahasa Peradaban
    Foto dari kiri ke kanan: Abdullah Assegaf, S.Sos., M.Hub.Int. (Dosen HI Universitas Brawijaya), Prof. Dr. Mohd Roslan Bin Mohd Nor (Department of Islamic History, Civilization and Education, Universiti Malaya), Astrid Damayanti, Sos., M.A. (Dosen PSI UIN Maulana Malik Ibrahim-Malang), Dr. Moch. Fauzie Said, M.Si. (Dosen Ilmu Politik Universitas Brawijaya), Dr. Akhmad Fauzi Hamzah (Wakil Direktur Pasca Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda’wah), Dr. Muhammad Farid (Kaprodi S3 MPI Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda’wah), Dr. Kholili Hasib (Kaprodi S3 PAI Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda’wah)

    www.fasznews.com -

    (Sebuah catatan perjalanan dari Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah)

    Perjalanan itu sama sekali tidak direncanakan. Ba’da Ashar, roda kendaraan mulai berputar meninggalkan Kota Malang, menembus jalan yang perlahan berganti rupa seiring matahari yang kian condong ke ufuk barat. Kira-kira empat puluh menit berlalu dalam diam yang ditemani debur angin dan lamat-lamat suara kota yang menjauh, hingga akhirnya langit benar-benar menyerahkan diri pada gelap. Azan Isya berkumandang nyaris bersamaan dengan roda yang berhenti di depan gerbangnya, sebuah pesantren yang namanya sudah lama kami kenal, namun belum pernah bertandang masuk ke dalamnya, dan pada senja itu: Darullughah Wadda’wah, kami berkunjung. Kunjungan yang tak direncanakan itu, pada akhirnya, justru berbuah pengetahuan yang jauh lebih kaya daripada yang pernah kami bayangkan sebelum berangkat.

    Kami disambut dengan hangat oleh Dr. Kholili Hasib (Kaprodi S3 PAI), Dr. Muhammad Farid (Kaprodi S3 MPI), Dr. Akhmad Fauzi Hamzah (Wakil Direktur Pasca UII Dalwa) dan beberapa ustadz dari Dalwa. Kami diajak makan malam di restoran Hotel Dalwa saat itu. Perbincangan berlangsung hangat, diselingi dengan percakapan seputar pendidikan, pesantren, dan topik ringan lainnya. Perbincangan yang akhirnya mengantar kami menelisik lebih jauh, walaupun belum jenak saat malam mulai menggamit gelap. 



    Pondok Pesantren Darullughah Wadda'wah, terletak di sudut Raci, Bangil, Pasuruan. Dari kejauhan, tampak seperti pesantren pada umumnya: menara masjid menjulang, deretan asrama santri berbaris rapi, dan suara mengaji yang mengalun sejak subuh. Namun, siapa pun yang melangkah lebih jauh ke dalam kompleks Pondok Pesantren Darullughah Wadda'wah (Dalwa) akan mendapati bahwa pesantren ini menyimpan lebih banyak cerita ketimbang sekadar tempat mengaji. Di balik gerbangnya, tumbuh sebuah ekosistem yang memadukan dakwah, pendidikan formal, dan denyut ekonomi umat, sebuah miniatur tentang bagaimana pesantren bisa menjadi salah satu jalan bagi kemajuan bangsa.


    Nama Dalwa tak bisa dilepaskan dari sosok pendirinya, Al Habib Hasan bin Ahmad Baharun, yang akrab disapa Abuya. Perjalanan pendidikannya sendiri adalah potret keseimbangan: ia menimba ilmu agama sejak kecil dari kedua orang tuanya, lalu menempuh pendidikan formal mulai dari Sekolah Rakyat, Pendidikan Guru Agama, hingga Sekolah Menengah Ekonomi Atas di Surabaya (RRI.co.id, 2026). Pengalaman itulah yang kelak menjadi fondasi filosofi pesantren yang ia dirikan pada 1981: bahwa ilmu agama dan ilmu umum bukan dua kutub yang berseberangan, melainkan dua sayap yang sama-sama dibutuhkan seorang santri untuk terbang menghadapi zaman. Pesan yang kerap diulang Abuya, bahwa suatu saat santri akan membutuhkan ijazah, menjadi semacam mantra yang menjelaskan mengapa Dalwa sejak awal tak pernah berhenti hanya pada pengajaran kitab kuning.

    Dari titik itulah pendidikan formal di Dalwa tumbuh berjenjang. Sekolah tinggigama Islam yang dirintis Abuya kini telah berkembang menjadi sebuah institut agama Islam dengan jenjang pendidikan yang merentang hingga magister dan doktor (RRI.co.id, 2026). Nama “Darullughah” atau rumah bahasa pun bukan sekadar label; penguasaan bahasa Arab menjadi salah satu keunggulan yang melekat pada santri-santri Dalwa, modal yang membuka jalan bagi mereka untuk mendalami khazanah keislaman langsung dari sumbernya sekaligus bersaing di ranah akademik yang lebih luas.

    Dari titik itulah







    Namun yang barangkali paling mencolok, dan jarang ditemukan di pesantren lain, adalah kelengkapan fasilitas ekonomi yang dibangun Dalwa. Di bawah pengelolaan pusat bisnisnya, pesantren ini menaungi belasan unit usaha: hotel bernuansa syariah, minimarket, pabrik roti, produksi air minum kemasan, furnitur, fashion, percetakan, hingga layanan travel haji dan umrah serta katering (NU Online, t.t.). Unit-unit ini disebut mampu menghasilkan laba lebih dari seratus tiga puluh miliar rupiah dalam setahun, cukup untuk menopang gaji guru dan biaya operasional pesantren tanpa harus bergantung sepenuhnya pada donasi atau bantuan pemerintah (NU Online, t.t.). Dengan kata lain, Dalwa membuktikan bahwa kemandirian ekonomi dan kemurnian dakwah bisa berjalan beriringan, bukan saling meniadakan.

    Yang membuat model ini kian bermakna adalah dampaknya yang tidak berhenti di tembok pesantren. Sejumlah unit usaha dikelola secara profesional bersama masyarakat sekitar yang berkompeten, dan pemberdayaan ekonomi yang dijalankan menyasar warga umum di luar santri, bukti bahwa Dalwa memosisikan diri sebagai pesantren yang ramah bagi umat, bukan menara gading yang berjarak dari lingkungannya (Laili & Zaki, 2020). Santri sendiri turut ditempa dengan semangat kewirausahaan, meski pada masa belajar diniyah mereka sengaja tidak dilibatkan langsung dalam operasional bisnis agar fokus belajarnya tak terganggu. Prinsip ini menegaskan bahwa jiwa entrepreneur ditanamkan bukan sebagai pengalih perhatian dari mengaji, melainkan sebagai bekal tambahan yang kelak menyertai santri ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.

    Dari sudut Raci inilah kemudian tergambar jawaban atas pertanyaan besar tentang peran pesantren dalam pembangunan bangsa. Pesantren, di tangan Dalwa, bukan lagi institusi yang berhenti pada fungsi keagamaan semata, melainkan turut menjawab tantangan zaman: mencetak generasi yang cakap ilmu agama sekaligus melek ekonomi, mandiri secara kelembagaan, dan terbuka kepada umat di sekitarnya. Perjalanan singkat ba’da Ashar yang berakhir di gerbangnya saat Isya itu pun, pada akhirnya, terasa seperti sebuah isyarat bahwa pengetahuan kerap datang justru dari langkah yang tak direncanakan. Barangkali di situlah letak makna sesungguhnya dari nama yang disandang pesantren ini, rumah bahasa dan dakwah yang, pada akhirnya, juga menjelma menjadi pelita ilmu bagi bangsa. (adf).

    Terima kasih turut melengkapi referensi:

    Laili, Y. N. F. M., & Zaki, I. (2020). Pemberdayaan ekonomi masyarakat di Pondok Pesantren Dalwa berdasarkan model evaluasi sumatif CIPP. Jurnal Ekonomi Syariah Teori dan Terapan, 7(7), 1214–1230. https://doi.org/10.20473/vol7iss20207pp1214-1230

    NU Online. (t.t.). Mahasiswa Unhasy belajar kewirausahaan di kampus Dalwa. NU Online. https://www.nu.or.id/daerah/mahasiswa-unhasy-belajar-kewirausahaan-di-kampus-dalwa-8NBKy

    RRI.co.id. (2026, Juli 27). Habib Hasan Baharun dorong santri miliki ijazah untuk dakwah. RRI.co.id. https://rri.co.id/samarinda/berita-lain/2591943/habib-hasan-baharun-dorong-santri-miliki-ijazah-untuk-dakwah

    • Tags :

    • Psikologi 0
    • Teknologi 3
    • Pesantren 3
    • Edukasi 14
    • Opini 5

    • Pengangkatan Kaprodi Ilmu Pemerintahan FISIP UB Dipertanyakan oleh Dosen: Diduga Terjadi Maladministrasi

      • Nor Kholis
      • Feb 05, 2024
    • KETERKAITAN KERJA SAMA INTERNASIONAL PADA PERUNDINGAN INDONESIA DAN TURKI DALAM KERJASAMA IT-CEPA

      • Fayza Yasmin Aulia Rahmi
      • Oct 27, 2024
    • Film Dirty Vote Mendapatkan Respon Beragam Dari Masing-Masing Timses Calon Presiden

      • Kholis
      • Feb 12, 2024

    • Jawa Timur
    • Edukasi
    • Opini
    • Religi
    • Liburan & Travel
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Keluarga
    • Lifestyle
    • Pendidikan
    • Ekonomi & Bisnis

    Berita Akurat dan Edukatif, Menyajikan berita terkini secara akurat dan edukatif di Indonesia dan Internasional dengan berbagai kategori.

    Berita Terbaru

    • UII Dalwa Gelar Pelatihan Pengelolaan Jurnal Scopus, Datangkan...

      • 12 Sep, 2026
    • Dari Raci untuk Dunia: Ketika Pesantren Bicara Bahasa...

      • 12 Sep, 2026

    Kontak Kami

    • Surabaya
    • 082145024305
    • fasznews@gmail.com

    © 2023 FaszNews.com . All Rights Reserved.